Jiwa Dulu Baru Angka: Apa yang Terjadi di IDLS 2026

Sabtu, 9 Agustus 2026. Lebih dari 600 pemimpin dari berbagai kota memenuhi satu ballroom untuk satu percakapan yang jarang terjadi di dunia kepemimpinan: bahwa sebelum bisa memimpin orang lain, ada yang harus diselesaikan di dalam diri dulu.

Registrasi dibuka jam delapan. Ballroom baru dibuka jam sembilan. Tapi antusiasme peserta tidak menunggu jadwal. Sudah ramai sejak awal, penuh dengan para pemimpin dari berbagai kota yang datang bukan hanya untuk hadir, tapi untuk benar-benar ada di sana.

Lebih dari enam ratus orang memenuhi ballroom hari itu. Bukan angka kecil untuk sebuah event kepemimpinan. Dan yang menarik bukan hanya siapa yang hadir, tapi kenapa mereka mau datang jauh-jauh untuk mendengar satu tema: Jiwa Dulu Baru Angka.

Acara dibuka dengan sesi dari Prof. Aris Satria, yang membawa perspektif yang tidak selalu nyaman didengar di ruangan penuh pemimpin: bahwa kepemimpinan yang terlalu fokus pada angka menyimpan risiko yang jarang dibicarakan. Di balik target, KPI, dan metrik, ada dimensi manusia yang sering terlewat. Dan itu yang mulai membuka percakapan hari itu.

Sebelum kamu bisa memimpin orang lain, ada yang harus diselesaikan di dalam dirimu sendiri dulu.

Setelah sesi pembuka, ada momen yang menjadi salah satu yang paling diingat peserta hari itu. Babeh Jamil Azzaini meluncurkan buku terbarunya langsung di hadapan lebih dari enam ratus orang.

Diluncurkan di IDLS 2026
Spiritual Leadership

Buku terbaru Jamil Azzaini diluncurkan di hadapan seluruh peserta IDLS 2026. Yang membuat momen ini berbeda: setiap peserta yang hadir sudah memegang buku tersebut, lengkap dengan tanda tangan, serta sambutan dari rekan-rekan dan dosen pembimbing beliau di ITB.

Buku itu sudah ada di tangan peserta sebelum diluncurkan. Sudah ada tanda tangannya. Sudah ada sambutan dari rekan-rekan dan dosen pembimbing Babeh di ITB. Launching-nya bukan sekadar seremonial, tapi momen di mana sesuatu yang sudah dipegang peserta tiba-tiba terasa jauh lebih bermakna.

Setelah ishoma, acara dilanjutkan dengan talkshow yang dimoderatori oleh Pak Atok Aryanto. Tiga narasumber duduk di atas panggung: Coach Salman SubakatIra Puspadewi, dan Coach Fahmi. Ketiganya membawa perjalanan yang berbeda, tapi berbicara tentang satu benang merah yang sama.

Talkshow tidak berjalan seperti wawancara biasa. Atok membawa percakapan ke arah yang lebih personal: masing-masing narasumber berbagi tentang perjalanan kepemimpinan mereka sendiri. Coach Fahmi sebagai Grand Master Business Coach berbicara tentang apa yang benar-benar membentuk seorang pemimpin. Ira Puspadewi membawa perspektif dari pengalamannya memimpin ASDP selama tujuh tahun. Coach Salman Subakat berbagi tentang bagaimana Paragon dibangun dengan fondasi yang jauh melampaui angka.

Yang membuat sesi ini terasa berbeda dari talkshow kepemimpinan pada umumnya: tidak ada yang berbicara tentang strategi atau framework. Semua berbicara tentang diri. Tentang momen ketika mereka menyadari bahwa angka-angka yang mereka kejar tidak akan pernah cukup kalau fondasinya belum benar.

Tema yang Bukan Sekadar Tagline
"Jiwa Dulu Baru Angka" bukan tema yang dipilih karena terdengar bagus. Ia lahir dari satu keyakinan: bahwa pemimpin yang hanya diukur dari performa akan selalu menemukan langit-langit yang sama.

Yang membedakan pemimpin yang bertahan dari yang terbakar habis bukan pada seberapa besar targetnya, tapi pada seberapa dalam ia mengenal dirinya sendiri. Itu yang coba dihadirkan IDLS 2026 dalam satu hari penuh.

Acara ditutup dengan momen yang tidak ada di rundown mana pun: Babeh Jamil mengajak seluruh peserta untuk berdoa bersama. Dan sebelum doa itu dimulai, ia berbicara tentang satu hal yang menjadi inti dari seluruh hari itu, bahwa sebelum bisa memimpin, kita harus punya hati yang bersih dulu. Banyak peserta yang menangis. Banyak yang berpelukan dengan orang yang baru mereka kenal hari itu.

Setelah doa, panitia memutar video recap kegiatan hari itu. Enam ratus lebih orang menonton bersama dalam satu ruangan, melihat kembali apa yang sudah mereka lalui sejak pagi. Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh kontributor yang membuat hari itu terjadi.

Dari Kami, di Balik Layar

Kami terlibat dalam penyelenggaraan IDLS 2026 dari jauh sebelum hari H: koordinasi venue, pengelolaan pendaftaran lebih dari 600 peserta, strategi pemasaran, hingga operasional teknis di lapangan selama acara berlangsung.

Event sebesar ini punya banyak titik yang bisa salah. Itu yang kami jaga supaya tidak terjadi, supaya yang ada di panggung bisa fokus sepenuhnya pada pesertanya.

Artikel Terkait