Acara baru mulai jam delapan pagi. Tapi jauh sebelum registrasi dibuka, area venue sudah ramai. Peserta datang lebih awal. Bukan karena tidak ada tempat lain yang bisa dituju, tapi karena mereka memang ingin ada di sana.
Ruangannya lega tapi tidak terasa dingin. Pencahayaannya sengaja dibuat minim, bukan untuk kesan dramatis, tapi supaya suasananya terasa lebih intim. Ratusan orang di satu ruangan, tapi tidak ada yang merasa asing.


Sebelum acara resmi dimulai, peserta sudah bisa bertemu langsung dengan Bunda Aniqq Al Faqiroh untuk sesi foto bersama. Bagi sebagian besar yang hadir, ini adalah pertemuan pertama secara langsung dengan sosok yang selama ini hanya mereka kenal dari layar. Dan hari itu juga menyimpan satu momen yang tidak banyak orang antisipasi sebelumnya.
Diluncurkan di RPP Road to Bandung
Satu Rumah Dua Dunia
Buku terbaru Bunda Aniqq Al Faqiroh diluncurkan langsung di hadapan peserta yang hadir. Mereka yang ada di ruangan itu menjadi yang pertama menyaksikannya.
Setelah itu, acara dibuka dengan doa bersama. Dan kemudian MC mempersilakan Bunda Aniqq naik ke depan.
Ruangan langsung diam.
Bunda Aniqq tidak membuka dengan sapaan atau kalimat pembuka yang panjang. Ia membacakan sebuah puisi berjudul Menemukan Kembali Diri yang Hilang. Puisi yang berbicara tentang perempuan yang hadir di ruangan itu. Tentang diri yang perlahan menghilang setelah menjadi ibu, menjadi anak, menjadi istri, menjadi perempuan yang bekerja keras setiap hari. Semua orang di ruangan tahu puisi itu sedang berbicara tentang mereka.

Dari puisi, Bunda Aniqq masuk ke materi. Ia berbicara tentang hal yang jarang diakui secara terbuka: bahwa perempuan sering kali begitu sibuk menjadi banyak hal untuk banyak orang, sampai tidak sempat bertanya siapa dirinya sendiri di luar semua peran itu. Tidak ada sesi tanya jawab. Tidak perlu. Peserta tidak datang untuk berdebat. Mereka datang untuk mendengar sesuatu yang sudah lama ingin mereka dengar.
“Di tengah semua peran yang kamu jalankan setiap hari, kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar menjadi dirimu sendiri?”
Setelah materi selesai, Bunda Aniqq membawa peserta masuk ke sesi healing. Visualisasi dan meditasi terpandu. Lampu dimatikan. Ruangan yang sudah intim dari tadi menjadi lebih gelap, lebih hening, lebih dalam.
Yang terjadi di dalam ruangan selama sesi itu tidak didokumentasikan. Memang sengaja begitu. Sesi healing berlangsung tanpa kamera, tanpa konten, tanpa yang perlu direkam untuk siapapun di luar ruangan. Itu ruang yang dijaga privasinya.
Tentang Sesi Healing
Sesi healing di RPP Road to Bandung berlangsung tanpa dokumentasi. Apa yang terjadi di dalam ruangan adalah milik peserta yang hadir. Kami menghormati itu sepenuhnya.
Yang bisa disampaikan adalah ini: banyak yang menangis. Banyak yang menumpahkan amarah yang sudah lama disimpan. Dan ketika sesi itu selesai, lampu masih mati. Peserta berdoa bersama dalam gelap. Lalu saling berpelukan dalam tenang.
Tidak ada riuh. Tidak ada tepuk tangan panjang. Peserta pulang dalam keadaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi siapapun yang ada di sana tahu persis rasanya.
Kenapa Acaranya Langsung Selesai Setelah Healing
Setelah sesi healing, kondisi peserta berada di gelombang otak alpha: rileks, reseptif, dan sangat mudah terdistraksi. Tidak ada sesi tambahan setelahnya bukan karena tidak ada yang direncanakan, tapi karena memang begitu rancangannya.
Supaya apa yang sudah diproses selama sesi healing tidak langsung tercampur hal lain. Supaya peserta bisa membawa ketenangan itu pulang dengan utuh.
Dari Kami, di Balik Layar
Kami terlibat sejak jauh sebelum hari H: dari koordinasi venue, pengelolaan pendaftaran, strategi pemasaran, sampai operasional teknis di lapangan saat acara berlangsung.
Itu yang kami kerjakan di setiap event yang kami tangani. Supaya yang ada di depan bisa fokus sepenuhnya pada pesertanya.